FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
TAHUN 2018
Teori Antroposentrisme
Antroposentrisme adalah teori lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta.Mengaggap bahwa manusia manusia dan kepentingannyasebagai nilai tertinggi, sehingga mengatakan bahwa nilai danprinsip moral hanya berlaku bagi manusia sehingga etika hanyaberlaku bagi manusia. Kewajiban dan tanggung jawab manusiaterhadap alam merupakan perwujudan kewajiban dan tanggungjawab moral terhadap sesama manusia, bukan terhadap alam itusendiri.
Etika ini bersifat intrumentalistik artinya pola hubunganmanusia dengan alam yaitu alam sebagai alat kepentinganmanusia. Manusia peduli terhadap alam, demi menjaminkebutuhan hidup manusia sehingga jika alam itu tidak bergunabagi kepentingan hidup manusia maka akan diabaikan saja. Disebut sebagai etika teologis karena mendasarkanpertimbangan moral pada akibat dari tindakan tersebut bagikepentingan manusia. Suatu kebijakan dan tindakan yang baikdalam kaitan dengan lingkungan hidup akan dinilai baik kalaumempunyai dampak yang menguntungkan bagi kepentinganmanusia.
Etika ini juga bersifat egoistis karena hanya mengutamakankepentingan manusia, karena kepentingan mahkluk hidup lain mendapat pertimbangan moral tetap saja demi kepentinganmanusia, maka dianggap sebagai etika lingkunan yang dangkaldan sempit (shallow environmental ethics).
Krisis lingkungan dianggap terjadi karena perilaku manusiayang dipengaruhi cara pandang antroposentris. Cara pandang inimenyebabkan pola perilaku manusia yang eksploitatif, dekstruktif dan tidak perduli terhadap alam. Apa saja bolehdilakukan manusia terhadap alam sejauh tidak erugikankepentingan manusia. Kepentingan manusia dalam hal bersifatjangka pendek.
1. Argumen Antroposentris
Historis pemikiran antroposentris :
a. Teori Kristen
➢ Kitab Kejadian 1: 26-28
Penafsiran akan ayat ini adalah Allah memberi wewenangpenuh kepada manusia untuk mengeksploitasi alam demi kepentingan manusia.
➢ Kejadian Pasal 2: 9
Ketidakpatuhan manusia terhadap Allah melainkanmemutuskan sendiri mana yang baik atau tidak baikdilakukan. Kaitannya dengan alam semesta menganggapyang baik adalah yang menunjang kehidupannya sebagaimanusia sehingga dipelihara, dan yang jahat adalah yang mengancam kehidupan manusia sehingga harus dibasmi.
Terjadinya krisis lingkungan karena manusia mengintervensilingkungan demi kepentingannya.
b. The Great Chain of Being
Fokus utama terhadap Rantai Kehidupan ( The Great Chain of Being) dimana semua kehidupan di bumi membentuk danberada dalam sebuah rantai kesempurnaan kehidupan, mulai dariyang paling sederhana sampai pada Maha Sempurna, yaituAllah. Setiap ciptaan lebih rendah dimaksudkan untukkepentingan ciptaan yang lebih tinggi. Hal itu dianggap sahkarena demikianlah kodrat kehidupan dan tujuan penciptaan.
c. The Free and Rational Being
Manusia lebih tinggi dan terhormat dibandingkan denganmahkluk ciptaan lain karena manusia adalah satu-satunyamahkluk bebas dan rasional, oleh karena itu Tuhan menciptakandan menyediakan segala sesuatu di bumi demi kepentinganmanusia. Manusia mampu mengkomunikasikan isi pikirannyadengan sesama manusia melalui bahasa. Manusia diperbolehkanmenggunakan mahkluk non-rasional lainnya untuk mencapaitujuan hidup manusia, yaitu mencapai suatu tatanan dunia yang rasional.
Perspektif serta pemahaman antroposentris oleh WH. Murdy danF. Frase Darling merupakan pembelaan akan teori ini. Murdymenyatakan bahwa semua mahkluk di dunia ini ada dan hidupsebagai tujuan pada dirinya sendiri, sehingga hal yang wajar danalamiah kalau manusia menganggap dirinya lebih tinggi darimahkluk lain. Demi mencapai tujuannya manusia harus menilaitinggi alam, karena kelangsungan hidup dan kesejahteraan hidupmanusia tergantung dari kualitas, keutuhan dan stabilitasekosistem seluruhnya. Permasalahannya adalah tujuan-tujuanyang berlebihan yang berada di luar batas toleransi ekosistem itusendiri. Jadi menurut Murdy krisis lingkungan disebabkan olehpenedekatan antroposentris yang berlebihan.
Menurut Darling, pendekatan antroposentrisme tidak salahkarena dengan menempatkan manusia pada posisi lebihterhormat, manusia dituntut untuk bertanggung jawab khususterhadap seluruh isi alam semesta. Yang salah adalah penerapanantroposentrisme yang hanya melihat superioritas posisimanusia yang berkuasa atas alam secara sewenang-wenang.
2. Etika Intrumentalistik
Beberapa posisi dan argumen moral yang dapat menjadipegangan bagi manusia dalam hubungannya dengan lingkungan.
➢ Prudential and Instrumental Argument
Prudential Argument menekankan bahwa kelangsungan hidupdan kesejahteraan manusia tergantung dari kualitas dankelestarian lingkungan.
Argumen Instrumental adalah penggunaan nilai tertentu padaalam dan segala isinya, yakni sebatas nilai instrumental. Denganargumen ini, manusia mengembangkan sikap hormat trhadapalam.
➢ Teologi Kristen
Dalam kisah penciptaan, manusia diciptakan secitra denganAllah, sehingga manusia sebagai wakil Allah mempunyaitanggung jawab moral khusus, bahkan sangat berat, untukmenjaga dan melestarikan alam ciptaanNya.
Pembelaan atas teori antroposentris adalah :
• Validitas argumennya sulit dibantah sehingga yang salahbukan antroposentrime itu sendiri tetapi antroposentrismeyang berlebihan.
• Antroposentrisme menawarkan etika lingkungan yang mempunyai daya tarik kuat untuk mendorong manusiamenjaga lingkungan.
Kelemahan dari teori etika antroposentrisme :
• Mengabaikan masalah-masalah lingkungan yang tdaklangsung menyentuh kepentingan manusia.
• Kepentingan manusia selalu berubah-ubah dan berbeda-bedakadarnya.