Tugas Softskil individu 1 :
Jali, Juragan Krupuk yang makin
bersinar
Update per
Juni 2016
Bagi Jali, 50 tahun, menjadi pengusaha kerupuk tidak pernah
terbayangkan sebelumnya. Maklum pada menjelang tahun 2000, dia dan sang istri
Muniati, 42 tahun, tidak memiliki modal sepeser pun. Awalnya, pembuatan kerupuk
dilakukan dengan cara tradisional. Bersama sang istri, dia pun membuat adonan
kerupuk dengan peralatan seadanya. Setelah jadi kerupuk, dia mulai memasarkan
hasil usahanya ke sejumlah warung di seputar kampung Pintu Air di kawasan kota
Bekasi dan sekitarnya. Jali mengakui bahwa pada awalnya dia mengalami kesulitan
memasarkan produksi usahanya ini. Maklum, Bekasi merupakan sentra kerupuk.
Selain Jali, sudah ada sejumlah pengusaha kerupuk. Bahkan bisa dikatakan usaha
kerupuk sudah menjamur di sana. Beberapa di antara pesaing Jali telah memiliki
permodalan yang cukup besar.
Namun, hal itu tidak membuat Jali patah arang. Dengan
ketekunan dan keuletannya mengelola bisnis kecil-kecilan ini, hasil produksinya
mulai diminati konsumen. Seiring dengan semakin meningkatnya pesanan kerupuk,
dia pun mulai mendapatkan harapan cerah terhadap industri kerupuk yang
digelutinya ini. Perlahan tapi pasti, usaha yang digelutinya ini, mampu
memberikan harapan bagi keluarganya. Dengan semakin banyaknya pesanan kerupuk
hal ini dapat mengangkat perekonomian keluarganya.
Setelah dirasakan cukup mampu untuk bertahan, dia pun
memberanikan diri untuk menambah modal usaha dengan bantuan pembiayaan. Bantuan
modal ini jelas menyuntikkan darah segar bagi geliat usahanya dalam peningkatan
produksi dan memperluas jangkauan pemasaran. Dalam waktu yang bersamaan
akhirnya Jali memberi label pada perusahaan kerupuk ini dengan nama Sinar,
diharapkan menjadi trade mark kerupuk yang dihasilkan.
Nama atau label ini hanya sebagai identitas usaha saja,
karena ini sudah menjadi kebutuhan di pasaran, ujarnya. Usaha pembuatan kerupuk
ini pun lambat laun semakin diminati oleh konsumen. Produksi per harinya
meningkat menjadi 2x lipat, ujarnya. Perusahaan kerupuk Sinar yang kini
mempekerjakan 60 karyawan ini, meski sempat mengalami pasang surut usaha, namun
kerupuk Sinar tetap mampu bertahan dan eksis. Tidak dipungkiri selalu ada
kendala usaha, tapi secara umum, usaha kami tetap dapat berjalan, ungkapnya.
Jali mengaku, dengan semakin tingginya pesanan kerupuk dalam
beberapa tahun terakhir, kualitas hasil produksi harus tetap dijaga. Menurut
dia, kualitas kerupuk sangat mempengaruhi pelanggan. Jali mengaku tidak pernah
mengurangi takaran bumbu- bumbu serta racikan ikan dan udang. Pasalnya, bila
dikurangi, maka kualitas atau cita rasa kerupuk hasil produksinya turun.
Dia kerap kali kesulitan untuk meningkatkan jumlah produksi
krupuk dan kesulitan cari tempat yang paling nyaman. Untuk itu, dia membutuhkan
alat produksi dan tempat penyimpanan kerupuk dengan luas yang cukup memadai.
Tepat pada tahun 2015, dia mendapatkan tawaran pembiayaan untuk usaha kecil
menengah dari KSP Sahabat Mitra Sejati ( Sahabat UKM ). Tawaran pembiayaan
modal UKM ini, langsung direspons olehnya. Dia mendapatkan persetujuan
pembiayaan sebesar Rp 750 juta.
Uang pembiayaan ini sebagian besar digunakan untuk menambah
gudang penyimpanan kerupuk dan alat pembuat kerupuk, tandasnya. Sarana
infrastruktur tersebut menurutnya sangat membantu dalam pengembangan usaha yang
dijalani. Dengan sarana yang memadai, usaha pembuatan kerupuk Sinar semakin
maksimal dan mampu memproduksi dengan kualitas yang semakin baik.
Jali juga menceritakan, setelah mendapatkan bantuan modal
dan pengembangan usaha dari Sahabat UKM, omzet penjualan pun terus merangkak
naik.
Perlahan tapi pasti omzet usahanya semakin bertambah. Bahkan
saat ini penghasilan per bulannya rata-rata mencapai Rp 240 juta. Pembiayaan
modal usaha kecil menengah yang digulirkan Sahabat UKM, menurut Jali, dapat
meningkatkan usahanya ini. Kalau diberikan kredit usaha lanjutan, akan saya
manfaatkan untuk pengembangan permodalan terutama modal untuk bahan baku
produksi, bebernya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar